Bila dilihat dari sisi realisasi investasi maupun cadangan minyak, PT Pertamina (Persero) mengaku bahwa perseroan masuk dalam kategori perusahaan kecil jika dibandingkan dengan perusahaan minyak dan gas (migas) di dunia. Namun, majalah Fortune Global memasukkan Pertamina dalam daftar 500 perusahaan besar di dunia.

Direktur Pengolahan Pertamina, Toharso saat Media Gathering di Hotel Hermitage, Jakarta, Senin (8/5/2017) mengatakan, “Kami meluruskan, kalau Pertamina dianggap perusahaan besar, keliru. Pertamina adalah perusahaan migas yang masih kecil dibanding perusahaan migas dunia”.

Sebagai perusahaan BUMN terbesar di Indonesia, Pertamina bila dibandingkan perusahaan pelat merah negara lain, seperti Petronas Malaysia, The Petroleum Authority of Thailand atau PTT, Pertamina masih kalah bersaing. Apalagi dengan perusahaan migas swasta atau International Oil Company (IOC), seperti Shell, Exxon Mobil, dan sebagainya.

Investasi Pertamina, lanjutnya, rata-rata baru sekitar US$ 4 miliar-US$ 5 miliar per tahun. Sementara perusahaan minyak lain, Toharso menyebut, sudah mencatatkan rata-rata investasi lebih dari US$ 15 miliar setahun.

Exxon Mobile bahkan mampu mengeluarkan investasi lebih dari US$ 30 miliar. Termasuk cadangan minyak dan produksi minyak Pertamina belum banyak.

Meski begitu Pertamina harus mengarah ke sana untuk bisa naik lebih tinggi supaya sama (dengan perusahaan migas dunia), dengan cara memupuk investasi lebih besar, terutama di sektor hulu.

Untuk diketahui, Fortune Global 500 memuat daftar perusahaan terbesar dunia yang merepresentasikan perusahaan terbaik dalam bisnis global.

Dalam daftar tersebut, Indonesia hanya diwakili oleh PT Pertamina (Persero). Itu pun Pertamina turun 100 peringkat menjadi ke peringkat 230 dari sebelumnya di 130 pada 2015.

Fortune mencatat, Pertamina mencatat revenue US$ 41,76 miliar pada pembukuan 2015, turun 40,9 persen dibandingkan periode sebelumnya yang sebesar US$ 70,6 miliar.

Sumber : bisnis.liputan6.com