Ilustrasi.

Dengan populasi melebihi 250 juta orang yang memiliki permintaan listrik yang tinggi, Indonesia termasuk salah satu negara terbesar pengguna dan produsen energi terbarukan di Asia Tenggara.

Indonesia menggunakan berbagai metode yang digunakan untuk menghasilkan listrik dari batubara, minyak mentah, dan pembangkit tenaga air untuk pembangkit daya listrik.

Maka sumber energi seperti apakah yang tersedia selama 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun tanpa takut kehilangan sumber energi? Panas bumi adalah jawabannya.

Seperti yang kita ketahui energi panas bumi merupakan energi panas yang dihasilkan dari dalam kerak bumi. Jadi, semakin kedalam mendekati inti bumi, maka panas yang dihasilkan semakin bertambah, diperkirakan suhu di dalam inti bumi mencapai 5400 derajat C [2].

Apalagi Panas bumi berpotensi memasok listrik 10 kali konsumsi listrik dunia saat ini.

Namun melansir laman hijauku.com, ternyata perkembangan energi dari panas bumi jauh tertinggal dibandingkan dengan sumber energi terbarukan yang lain seperti angin dan panel surya.

Dalam tulisannya di Carbon Neutral, David Lloyd menyebutkan, pada 2010, 70 negara tercatat tengah mengembangkan atau memertimbangkan pembangunan pembangkit energi dari panas bumi. Namun hingga Mei tahun ini, kapasitas terpasang energi panas bumi dunia baru mencapai 11,2 GW (bandingkan dengan 240GW kapasitas energi angin pada akhir 2011).

Kenyataannya banyak negara mengabaikan potensi panas bumi mereka dan lebih memilih minyak dan gas alam. Padahal sumber energi dari panas bumi relatif lebih mudah untuk dieksplorasi karena lebih dekat dengan permukaan bumi.

Selain melimpah, panas bumi adalah sumber energi yang bersih, tidak menghasilkan emisi dan gas rumah kaca. Saat ini, hanya 20 negara yang menggunakan panas bumi sebagai sumber energi listrik, sementara 70 negara lain memakainya sebagai sumber pemanas.

Kendala yang sering dihadapi dalam pengembangan energi panas bumi adalah dana, teknologi dan lokasi panas bumi yang terletak di lokasi konservasi, misalnya di hutan lindung. Untuk menemukan sumber panas bumi yang potensial juga membutuhkan waktu. Namun kendala ini bisa diatasi dengan koordinasi yang tepat antar pihak-pihak yang terkait.

Studi kasus Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Laporan Geothermal Energy Association yang diterbitkan Mei lalu mengungkapkan, permintaan listrik Indonesia akan naik 7-9% per tahun pada masa datang.

Di Indonesia masih ada 80 juta penduduk yang tidak memiliki akses listrik menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat ketersediaan listrik terendah di Asia Tenggara yaitu 66%.

Ketersediaan sumber energi dari panas bumi yang melimpah, bisa membantu Indonesia dalam memenuhi kebutuhan listrik sebelum pemerintah memikirkan alternatif energi lain yang lebih berisiko, seperti nuklir, yang saat ini banyak digembar-gemborkan.

Dengan potensi yang mencapai 27.510 MW, cadangan panas bumi di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia. Dan sebagian besar cadangan panas bumi Indonesia memiliki suhu yang sangat tinggi (>250°C), yang ideal digunakan sebagai pembangkit listrik.

Indonesia telah memiliki tekad meningkatkan kapasitas energi terpasang dari panas bumi menjadi 5000 MW pada 2025. Indonesia juga sudah mengeluarkan peraturan dan undang-undang untuk mengembangkan sumber panas bumi ini. Peraturan itu berupa keringanan pajak dan kemudahan bea cukai bagi perusahaan yang mendatangkan peralatan untuk mengembangkan energi panas bumi.

Pada 2011, pemerintah juga mewajibkan PLN (Perusahaan Listrik Negara) untuk membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan harga maksimum mencapai US$0.97/kWh.

Saat ini setidaknya ada 44 proyek panas bumi yang tengah dibangun di Indonesia. Dari seluruh proyek ini, 11 proyek dikembangkan oleh PLN dan 33 proyek lain digarap oleh perusahaan swasta. Bank Dunia juga telah bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mendanai dua proyek panas bumi (di Sumatra dan Sulawesi) senilai US$ 300 juta.

Cadangan panas bumi Indonesia yang melimpah ini membuka kesempatan untuk melepaskan ketergantungan masyarakat akan bahan bakar fosil. Dengan beralih ke energi bersih, Indonesia diharapkan mampu mandiri sekaligus membantu aksi mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Sumber : www.hijauku.com