Ilustrasi

Meningkatnya persediaan minyak mentah di Amerika Serikat membuat harga minyak dunia turun. Beberapa waktu lalu persediaan minyak mentah 0,6 juta barel lalu naik menjadi 486,1 juta barel, atau meningkat naik 6,8 persen dari waktu yang sama tahun lalu.

Hal ini disampaikan Badan Informasi Energi AS (EIA). Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, turun USD0,29 menjadi menetap di USD53,77 per barel di New York Mercantile Exchange.

Dikarenakan volume yang diperdagangkan tipis, dengan banyak investor pergi untuk liburan akhir tahun. Bulan depan AS distilat dan bensin berjangka berakhir pada hari ini yang bisa menambah perubahan harga.

Lalu apa dampaknya bagi Indonesia?

Di lansir dari: liputan6- Bahwa kenaikan harga minyak dunia menjadi masalah bagi Indonesia. Di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017, pemerintah sudah mematok harga minyak mentah Indonesia sebesar US$ 45 per barel.

“Kita kan nett importir bahan bakar minyak (BBM). Kalau kita membeli minyak mentah atau BBM dengan harga jauh lebih tinggi, maka kita membayarnya lebih besar. Ini risikonya lebih berat ketimbang penurunan harga minyak dunia,” terang Enny.

Lanjut Enny, Indonesia‎ belum menapaki diversifikasi ke energi baru dan terbarukan sehingga masih mengandalkan BBM sebagai sumber energi meskipun harganya mahal. “Risikonya seluruh masyarakat yang menanggung saat harga BBM atau energi lain lebih mahal. Kalau energi kita mahal, daya saing Indonesia yang sudah turun bisa makin turun gara-gara kenaikan harga minyak,” jelasnya.

‎Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari INDEF Imaduddin Abdullah menambahkan, saat harga minyak dunia naik sebetulnya fiskal Indonesia akan tetap aman karena tidak ada lagi beban subsidi BBM yang besar seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Dari kenaikan harga minyak, justru meningkatkan penerimaan. Asumsinya harga minyak naik US$ 1 per barel, penerimaan naik Rp 800 miliar, sehingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan (PPh) Migas, dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) migas naik, jadi ada kontribusinya di APBN,” dia menerangkan.

Minyak dunia, sambung Imaduddin, merupakan magnet energi dunia yang mampu mempengaruhi harga komoditas lain, seperti harga minyak kelapa sawit mentah (CPO), batubara, karet, dan harga gas.

“Komoditas ini adalah andalan ekspor Indonesia, sehingga kalau harga minyak dunia naik, akan meningkatkan penerimaan pada pos Bea Keluar karena ada peningkatan ekspor. Makanya pemerintah tidak mau memangkas produksi minyak mentah sebanyak 815 ribu barel per hari untuk menjamin penerimaan negara.

Imaduddin memperkirakan harga minyak dunia bakal terkerek naik di level US$‎ 50 sampai US$ 60 per barel per hari. Karena sebelumnya minyak dunia mengalami penurunan harga, sehingga kondisi ini tidak akan berdampak lama mengingat secara permintaan global naik

“Karena sudah ditetapkan target lifting di APBN 2017, mudah-mudahan ada inflow tambahan untuk menutup defisit fiskal atau anggaran. Secara demand naik tapi harga minyak dunia diperkirakan maksimal dikisaran US$ 60 per barel sehingga APBN perlu dirombak karena akan ada perubahan asumsi pemerintah terhadap penerimaan negara,” terang dia.

Sumber : bisnis.liputan6.com