Potensi Besar Bagi Pasar Energi Panas Bumi Indonesia

0
276
Pipa-pipa penyalur uap dari sumur geothermal di PLTP Lahendong unit 5 dan 6 di Tompaso, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Uap yang disalurkan akan menggerakkan turbin pembangkit listrik dengan kapasitas 2x20 MW.

Nampaknya Potensi Energi Panas Bumi di Indonesia memiliki potensi dan kesempatan yang besar untuk dikembangkan.

Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia saat ini memiliki banyak sekali sumber energi baru dan terbarukan.

Yang apabila digenjot penggunaannya, dapat digunakan sebagai alternatif dari sumber energi fosil. Sumber energi fosil sendiri diestimasi habis dalam kurun waktu 12 tahun-15 tahun mendatang.

Kemudian dilansir dari: Kompas- Bahwa dalam catatan tertulis terkini Rekayasa Industri sebagaimana disampaikan Direktur Utama Jobi Triananda Hasjim, kemarin, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) adalah salah satu wujud meraih potensi tersebut.

Sumber energi fosil di Indonesia diperkirakan cepat habis sebab saat ini tingkat konsumsi minyak nasional sudah mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Adapun produksi minyak hanya 600.000 bph-800.000 bph.

Selain itu, pemerintah juga terus menggenjot alternatif energi lain, selain dari penggunaan energi batu bara. Hal itu sebagai konsekuensi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca (GRK), sesuai dengan ratifikasi perjanjian Paris Agreement yang diteken oleh DPR pada Oktober 2016 lalu.

Dalam ratifikasi tersebut, Indonesia harus mematuhi Nationally Determined Contribution (NDC) dengan target pemangkasan 29 persen emisi GRK hingga 2030.

Sumber energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia ada banyak. Misal dari matahari (solar), panas bumi, angin, air, hingga biomassa.

Menurut Jobi, pihaknya menyelesaikan proyek PLTP Unit 5&6 Lahendong di Sulawesi Utara kelar lebih cepat dari jadwal.  Presiden Joko Widodo meresmikan PLTP ini pada Selasa (27/12/2016) bersamaan pula dengan peresmian PLTP Ulubelu unit 3 berkapasitas 1×55 megawatt (MW) di Provinsi Lampung. Selain itu, Rekayasa Industri juga telah menyelesaikan PLTP Kamojang Unit 5  berkapasitas 1 x 35 MW lebih cepat dari kontrak yang ditetapkan.

PT Rekayasa Industri (Rekind) menginformasikan pada Selasa (2/2/2016) baru saja menyelesaikan pembangunan PLTP Kamojang unit 5 (1 x 35 MW) milik PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dengan waktu penyelesaian lebih cepat satu bulan dari jadwal yang seharusnya.

Data dari Rekayasa Industri menunjukkan PLTP Gunung Salak di Jawa Barat adalah proyek di urutan pertama yang digarap Rekayasa Industri. Periode pengerjaan pada 1993. PLTP milik UNOCAL Geothermal of Indonesia Ltd itu berkapasitas 2×55 MW.

Menurut data itu, total ada 13 proyek PLTP garapan Rekayasa Industri. Termasuk di dalamnya adalah PLTP Kamojang 4 Jawa Barat berkapasitas 1×60 MW pada 206-2007 dan Kamojang 5 berkapasitas 1×35 MW pada 2013-2015. PLTP Kamojang 5 adalah milik PT Pertamina Getohermal Energy (PGE).

PGE juga mempercayakan pembangunan PLTE Ulubelu 3&4 berkapasitas 2×55 MW di Provinsi Lampung pada 2014-2016 kepada Rekayasa Industri. PLTP milik PGE yang baru saja diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 27 Desember 2016 adalah Lahendong 5&6 di Minahasa, Sulawesi Utara yang dibangun oleh Rekayasa Industri.

Sementara itu, masih menurut data tersebut, tercatat ada tiga proyek PLTP milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Sumitomo Corporation yang dibangun Rekayasa Industri. Pertama, PLTP Lahendong 2 Sulawesi Utara berkapasitas 1×20 MW pada 2005-2006. Kedua, PLTP Lahendong 3 berkapasitas 1×20 MW pada 2007=2008. Berikutnya, ketiga, adalah PLTP Lahendong 4 berkapasitas 1×20 pada 2009-2011.

Selanjutnya, pemilik PLTP Ulubelu 1 & 2 di Provinsi Lampung dengan kapasitas 2×55 MW adalah PT PLN. Rekayasa Industri membangun PLTP itu pada 2010-2012.

Sumber : bisniskeuangan.kompas.com